Monday, July 23, 2018

REVIEW: [ Restaurant ] TJIKINII LIMA Restaurant & Cafe

REVIEW: [ Restaurant ] TJIKINII LIMA Restaurant & Cafe

TJIKINII LIMA Restaurant & Cafe ini terletak Jalan Cikini I No. 5, Menteng, Jakarta Pusat 10330.  Konsepnya keren, didesign cozy dan sepertinya restaurant ini mempertahankan bangunan sebelumnya yakni rumah kuno peninggalan Belanda. 

"we are multi-function restaurant.  A place where you can hold your family or community events while indulging our top quality international food served as ala carte, set menu, or packages".

Suasana di restaurant ini cukup ramai.  Cocok untuk tempat hangout sama teman-teman maupun keluarga, bahkan seperti aku, sendirian - bawa laptop untuk kerja pun OK, meskipun wifi-nya tidak berfungsi optimal :)  So, for you guys yang berencana untuk kerja di TJIKINII LIMA Restaurant & Cafe, pertimbangkan untuk membawa modem atau tethering.

Harga makanan di TJIKINII LIMA Restaurant & Cafe menurutku tidak terlalu mahal yaa dengan kualitas dan kuantitas rasa dan suasana yang kita dapatkan.  Untuk lunch, aku pesan Nasi Bakar Ala Tjikinii Lima dan rasanya enak, rasa ayam bakarnya pas dan nasi bakarnya yummy, banyak ikan terinya. Selain itu ada tempe dan tahu, serta lalapan sebagai pelengkap.

Adapun menu-menu yang disediakan TJIKINII LIMA Restaurant & Cafe cukup beragam, dari Asia sampai Eropa.  Berikut menu dan daftar harganya:




























































































































































































































































































































































































































Recommended? Yes, enak banget tempatnya terutama untuk ngumpul sama teman-teman.  Oiya, sebagai tambahan informasi, tempat ini juga smoking friendly.  Score 4/5



Wednesday, July 11, 2018

REVIEW: [ Sheet Mask ] TONYMOLY I'm Real Aloe Mask Sheet

REVIEW: [ Sheet Mask ] TONYMOLY I'm Real Aloe Mask Sheet


TONYMOLY I'm Real Aloe Mask Sheet
Moisturizing


TONYMOLY I'm Real Aloe Mask Sheet ini diformulasikan dari lidah buaya yang dipercaya dapat melembabkan dan menenangkan kulit.  Produk ini menjanjikan menghidrasi kulit secara mendalam serta mengubah wajah yang kusam dan kering menjadi terlihat sehat dalam 20 menit.

Sebagai informasi, kondisi kulit aku agak unik dan berubah-ubah sesuai dengan kondisi lingkungan dan kondisi hormon.  Ketika menggunakan TONYMOLY I'm Real Aloe Mask Sheet ini, kondisi kulit aku sedang kering, banyak komedo dan ada berjerawat batu hormonal karena mau 'dapet'. 

Berikut hasil review setelah menggunakan produk TONYMOLY I'm Real Aloe Mask Sheet ini:
  • Aku beli sheet mask TONYMOLY I'm Real Aloe Mask Sheet ini via online store (Tokopedia) sekitar Rp. 13.000-an (dapet lumayan harga murah karena waktu itu beli 10 pcs dengan varian berbeda).
  • Sheet mask TONYMOLY I'm Real Aloe Mask Sheet ini lumayan tebal dibandingin sheet mask lainnya, karenanya mudah digunakan dan seharusnya tidak cepat robek.  Tapi tetep harus hati-hati dalam membuka sheet mask-nya.  
  • Wanginya enak dan segar namun tidak terlalu tajam namun serta yang pasti bukan wangi lidah buaya - sepengetahuan aku lidah buaya ga ada wanginya.  Ngga paham juga sih wangi apa, tapi enak.  Jadi pada waktu digunakan, kita bisa menikmati kesegaran dari wangi yang dihasilkan TONYMOLY I'm Real Aloe Mask Sheet.  Dengan kata lain, ada efek aromatherapy yang menenangkan pada saat digunakan.
  • Essence dari Sheet mask TONYMOLY I'm Real Aloe Mask Sheet ini berwarna bening, watery dan tidak terlalu lengket.  Essencenya lumayan banyak, jadi sisa masker bisa digunakan pada bagian tubuh lain, seperti leher, tangan, kaki dan bagian tubuh lainnya.
  • TONYMOLY I'm Real Aloe Mask Sheet ini memang aku simpan di kulkas, jadi ketika digunakan ada sensasi dingin.  Sensasi dingin ini tetap ada terus menerus sampai akhir penggunaan (kurang lebih 30 menit).  
  • Sebelum menggunakan TONYMOLY I'm Real Aloe Mask Sheet ini, wajah aku aku scrub menggunakan SKINFOOD Black Sugar Wash Off Scrub terlebih dahulu.  Kenapa aku scrub? Karena aku merasa wajah aku banyak komedonya.  FYI, aku ga sempet-sempet facial karena kesibukan (setahunan lebih kayaknya).  Setelah dicuci menggunakan facial foam dan menggunakan toner, baru aku pake TONYMOLY I'm Real Aloe Mask Sheet.  Biasanya aku menggunakan skincare setelah melakukan masker, namun karena kondisi kulit sedang ada jerawatnya, jadi aku memilih tidak menggunakan apapun setelahnya.
  • Setelah menggunakan TONYMOLY I'm Aloe Mask Sheet, pagi harinya aku merasa kulit lebih moist tapi tidak seperti yang dijanjikan.  Apa mungkin karena memang kulit sedang mengalami masalah hormonal dan lagi berjerawat dan banyak komedo yaa.. 


Repurchase? Yes, kalo aku sedang tidak mengalami masalah hormonal, berkomedo, kulit kering dan berjerawat, mungkin penggunaan TONYMOLY I'm Real Aloe Mask Sheet ini hasilnya akan maksimal.  Score (3/5)




Friday, July 6, 2018

REVIEW: [ Cleansing/ Makeup Remover ] GARNIER Micellar Cleansing Water

REVIEW: [ Cleansing/ Makeup Remover ] GARNIER Micellar Cleansing Water

GARNIER Micellar Cleansing Water
(Kemasan Berwarna Pink - untuk kulit sensitif)


GARNIER Micellar Cleansing Water ini mengandung 'micelles" berupa molekuk kecil berbahan dasar air yang pertama kali ditemukan di Perancis pada akhir tahun 1990-an dan digunakan sebagai pembersih wajah dikarenakan kualitas air di Perancis yang buruk.  GARNIER Micellar Cleansing Water yang menjanjikan dapat menghapus make up, membersihkan dan menyegarkan tanpa bilas dan dapat digunakan pada seluruh wajah termasuk area mata dan bibir.  GARNIER Micellar Cleansing Water ini dikemas dalam botol plastik berkualitas baik, berwarna bening, teksturnya sama seperti air, tidak berminyak, dan tidak memiliki bau khas apapun.

Aku pengguna GARNIER Micellar Cleansing Water sudah cukup lama, dan ini merupakan botol ke-2 aku.  GARNIER Micellar Cleansing Water tersedia dalam 2 ukuran, 125 ml dan 400 ml, aku menggunakan ukuran 125 ml biar praktis dan simpel bila dibawa-bawa kalo berpergian.


Berikut hasil review setelah menggunakan produk GARNIER Micellar Cleansing Water ini:
  • GARNIER Micellar Cleansing Water ini tersedia diberbagai toko/ drugstore, baik offline maupun toko online.  Harganya termasuk murah dibandingkan brand micellar water lainnya, kurang lebih Rp. 30.000,- untuk ukuran botol 125 ml dan Rp. 70.000,- untuk ukuran botol 400 ml.
  • GARNIER Micellar Cleansing Water ini seperti air dan karenanya kamu harus berhati-hati saat menuangkan produknya kekapas, karena seringkali produk yang tertuang kekapas kebanyakan. 
  • Aku menggunakannya dengan cara menuangkan GARNIER Micellar Cleansing Water di kapas bersih dan kemudian langsung diusapkan pertama-tama ke area bagian mata kemudian membalik kapas dan lanjut kearea bibir kemudian wajah yang terakhir.  Memang terkadang aku harus menggunakan 2 kapas sih kalo pada saat itu make up aku lumayan banyak.  
  • Meskipun dikatakan membersihkan tanpa harus dibilas, membersihkan wajah dengan GARNIER Micellar Cleansing Water ini kalau aku pribadi kurang afdol yaa kalo langsung dilanjutkan dengan penggunaan skin care.  Aku biasanya setelah membersihkan dengan produk ini, aku langsung lanjut mencuci wajah dengan facial foam sebab aku merasa membersihkan dengan GARNIER Micellar Cleansing Water itu tidak benar-benar bersih.  Aku menggunakan produk ini hanya sebagai first cleanser aku.  
  • Kalau aku mau membersihkan make up yang lumayan tebal, aku biasanya menggunakan cleansing oil, bukan micellar water.  Jadi GARNIER Micellar Cleansing Water digunakan apabila aku membersihkan make up tipis sehari-hari saja
  • Berbeda dengan oil cleanser yang terkadang meninggalkan rasa berminyak yang tidak nyaman, aku suka tekstur watery-nya GARNIER Micellar Cleansing Water.  Kadang menunda cuci muka menggunakan facial foam/ sabun muka menjadi tidak masalah.  Wajah tetap enak dilihat dan tidak oily. 
  • Sejauh ini menggunakan GARNIER Micellar Cleansing Water tidak membuat kulit kering, dan untuk kulit aku yang kombinasi dan suka berubah-ubah, aman banget kok pakai produk ini.  Tidak pernah bermasalah.

Repurchase? YES, untuk harganya yang lumayan murah, GARNIER Micellar Cleansing Water ini cukup efektif membersihkan make up sehari-hari.  Score (4/5)





Wednesday, July 4, 2018

TRAVELING: Liburan Ke Singapura bersama Anak 2 Tahun

TRAVELING: Liburan Ke Singapura bersama Anak 2 Tahun

Apakah si anak fun?
  

Tulisan ini difokuskan pada si baby.  Apakah si baby menikmati liburan di Singapura?

Kita sekeluarga liburan ke Singapura pada Juni 2018.  Kita pergi bertiga, bersama suami dan anak yang usianya pas 2 tahun Juni ini.  Sebenarnya aku tergiur untuk liburan ke Singapura karena segala fasilitas yang ditawarkan negara tersebut.  Aku sendiri sudah beberapa kali ke Singapura dan sadar bahwa kota tersebut merupakan kota metropolitan dengan segala kemewahan fasilitas yang ditawarkan (diantaranya kemudahan transportasi) serta surga belanja!  Mungkin hal-hal tersebut dapat membuat kita happy, tapi apakah si bayi juga senang?  Itu yang mau aku share disini.  


Dengan keadaan wilayah yang tidak begitu luas, kita sendiri dapat mengelilingi Singapura dalam waktu yang singkat dan apabila kita ingin menikmati semua fasilitas yang ditawarkan di Singapura, kita harus mempersiapkan budget yang tidak murah, tidak cocok untuk turis dengan budget terbatas, termasuk aku :)  Aku sendiri, memilih menginap di Hotel Mono, hotel kecil yang terletak di China Town.  Kondisi hotelnya lumayanlah jika hanya untuk tidur, tidak ada fasilitas lebih yang ditawarkan hotel tersebut.  


Keliling China Town dan Kuliner Yang Ditawarkan

Kita memilih hotel di China Town pada dasarnya agar mudah kulineran dan belanja-belanja.  Jadi setelah sampai hotel, kita langsung jalan-jalan disekitar China Town.  Kita mencari makanan dan akhirnya memilih salah satu stall makanan disana, aku pesan nasi hainan.  Honestly yaa, aku kurang begitu suka cita rasa yang ditawarkan.  Entah kenapa orang bilang 'aku mau ke Singapura, aku mau kulineran disana' namun kalo aku pribadi sih masih belum menemukan makanan yang cocok dilidah aku di negara ini, paling yang aku suka dimsum pinggir jalan didaerah Geylang sama makanan India (lupa namanya) - dan pada saat liburan Juni ini aku tidak kesana.

Aku juga tidak belanja apapun di China Town, karena yang dijual itu cinderamata seperti gantungan kulkas, gantungan kunci, kaos, dan semacamnya, dan aku sudah punya, dan sepertinya orang-orang sekelilingku sudah pernah pergi ke Singapura, atau setidak-tidaknya sudah memiliki cinderamata semacam itu.  Dari sejak awal, aku sudah tahu kok apa yang mau aku bawa sebagai oleh-oleh, Garrett Popcorns dan Irvins Salted Egg Fish Skin.

Di China Town, aku merasa anak aku tidak terlalu menikmati suasananya.  Memang dia di stroller dan melihat-lihat sekeliling, tapi hanya itu saja.  Tidak ada aktifitas lain yang menarik bagi dia.  Bahkan ketika makan, dia agak rewel, karena dia mau jalan-jalan dan kita tidak bolehin karena menggangu pengunjung lain.  Di tempat makannya pun tidak memiliki baby chair, sehingga kita harus pangku atau dudukan dia di kursi stall dia ketika makan.  



Universal Studio Singapore
Aku sebenarnya ragu apakah keputusan untuk pergi ke Universal Studio Singapore ini cocok untuk anak aku.  Namun karena aku pikir disana banyak permainan dan atraksi/pertunjukan (anak aku suka sama badut), akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke Universal Studio Singapore.  Aku naik Grab dari hotel (nanti aku jelasin kenapa aku naik Grab, bukan MRT) ke Vivo City, yang merupakan mall terkonesi dengan Sentosa Express (akses ke Sentosa Island).  Pada saat itu antrian agak sepi, dan kita langsung berhenti di stasiun pertama pada lokasi Universal Studio Singapore berada.  Namun kita tidak langsung menuju Universal Studio Singapore tapi jalan-jalan terlebih dahulu disekitarnya dan sambil kasi makan si baby.

Kita masuk Universal Studio Singapore sekitar jam 13.00, dan langsung menuju ke area permainan. Disinilah masalahnya, kita mencoba naik wahana Madagascar dan Shrek.  Anak aku malah nangis dan tidak menikmati.  Dia takut dengan suara dan suasana yang gelapnya.  FYI, biasanya anak aku ga takut apapun, di pantai dia nyebur, anjing besar ga takut, naik gajah dan pegang gajah senang banget, kayaknya belum ada hal yang ditakuti.  Nah, riding permainan di Universal Studio Singapore ternyata dia takut dan nangis.  Mungkin sebenarnya belum cukup umur yaa untuk menikmati wahana tersebut.

Tapi dia lumayan menikmati pertunjukan, badut-badut, dan barang-barang jualan lucu yang dipajang sih.. Untungnya dia belum kenal istilah 'membeli' jadi kalo ada barang lucu, dia pikir memang untuk disimpen disitu, bukan dibawa, jadi kantong mommy aman :)

Daripada nyesel dan ogah rugi karena harga tiket yang mahal, pas dia tertidur, waktunya mommy dan daddy-nya menikmati wahana Universal Studio Singapore.  Karena aku sudah pernah dan agak males naik lagi, maka daddy-nyalah yang naik wahana - aku tunggu si baby bobo sambil liat atraksi.



Hal-hal yang Sebaiknya Dicermati Sebelum Memutuskan Wisata ke Singapura bersama Anak

Tidak Memilih untuk Wisata Belanja Bersama Anak.  Aku pergi dengan anak 2 tahun yang sangat aktif dan maunya lari, loncat, dan explore sana sini.  Jadi untuk wisata belanja, aku eliminir.  Sebenernya hari pertama aku jalan-jalan ke Orchad Road, masuk ke beberapa mall disepanjang jalan itu, dan kita kewalahan karena si baby maunya lari-lari dan masuk-masuk ke toko dan pegang-pegang barang-barang yang ada disana plus gangguin sales person yang lagi jaga toko.  Setelah beberapa jam kita menyusuri Orchad Road, aku malah encok mengejar si baby dan tidak menghasilkan satu barang apapun.  

Bijak Dalam Memilih Moda Transportasi.  Di Singapura, memang dilengkapi dengan transportasi yang super mudah dan canggih.  Sebenarnya setelah beberapa kali ke Singapura, aku selalu memilih MRT sebagai moda transportasi yang dapat diandalkan.  Namun pada saat membawa baby, ternyata agak repot juga karena si baby tidak mau diam menunggu pembelian tiket dan menunggu kereta.  Maunya turun dari stroller dan lari-lari di sekeliling stasiun.  Apalagi pada saat dikereta, dia kadang teriak-teriak sendiri dan maunya jalan-jalan, yah memang ada penumpang yang memaklumi, tapi sepertinya lebih banyak yang jutek meskipun aku duduk ditempat khusus yang memang disediakan untuk membawa baby.

Berkaca dari pengalaman tersebut, maka akhirnya kita memilih taxi untuk sarana transportasi kita.  Memang agak mahal, tetapi setidaknya si baby sepertinya lebih nyaman dan tenang.  Sebagai catatan, taxi pada peak hour dikenakan tarif yang lebih tinggi (mahal banget) jadi bijak-bijak dalam bepergian.  Grab juga bisa digunakan di Singapura (sayangnya di Singapura belum ada Go-Car).  Kita beberapa kali menggunakan Grab dan Grab lebih murah daripada taxi.  Kalo kepepet aku pake Taxi.

Warga Singapura dan Anak Kecil.  Aku tidak melihat banyak anak kecil di Singapura (maksudnya baby-toddler, mungkin yang agak besar sedang bersekolah).  Meskipun ada beberapa yang sangat ramah sama anak aku, namun tidak sedikit juga yang terlihat sinis.  Mungkin juga karena si baby senangnya teriak-teriak dan jalan-jalan, serta Aku pergi dengan anak 2 tahun yang sangat aktif dan maunya lari, loncat, dan explore sana sini.  Jadi untuk wisata belanja, aku eliminir.  Sebenernya hari pertama aku jalan-jalan ke Orchad Road, masuk ke beberapa mall disepanjang jalan itu, dan kita kewalahan karena si baby maunya lari-lari dan masuk-masuk ke toko dan pegang-pegang barang-barang yang ada disana plus gangguin sales person yang lagi jaga toko.  Setelah beberapa jam kita menyusuri Orchad Road, aku malah encok mengejar si baby dan tidak menghasilkan satu barang apapun.

Perhatikan Waktu dan Energi Anak.  Meskipun banyak hal yang dapat dijelajahi di Singapura, kamu sebaiknya tidak 'ngoyo' untuk menargetkan beberapa lokasi wisata apabila waktu kunjungan kamu di Singapura terbilang cukup pendek. Apabila anak terlalu lelah, dia akan rewel dan kamu juga akan bete karenanya sehingga menyebabkan liburan ga asyik.  
  

Kesimpulan:
Sebenarnya masih ada banyak bucket lists yang ingin banget aku datangi hanya saja sepertinya tidak memungkinkan karena keterbatasan waktu serta pertimbangan kalau anak seusia anak aku belum cocok dan belum dapat menikmati obyek wisata tersebut, diantaranya Merlion Park, Singapore Flyer, MBS, keliling Sentosa Island, dan city tour.  Jangan terlalu ‘ngoyo’ untuk mendatangi berbagai tempat. Kalo aku sih yakinkan didalam hati: ‘toh nanti bisa balik lagi kesini’.

Intinya kalau bawa anak, kamu harus mengerti tipe anak kamu seperti apa.  Pengalaman aku selama liburan ke Singapura ini, ternyata si baby rusuh kalo diajakin ke mall dibandingkan ke obyek wisata lain.  Jadi apabila kita memaksakan membawa dia ke mall, siap-siap tidak jadi belanja karena dia rewel, lari-lari dan gangguin (ajak ngobrol/ajak main) sales person atau orang yang belanja di mall tersebut.



Happy Holiday!