Wednesday, January 17, 2018

[ My Point of View ] Kenapa Wanita Harus Bekerja, meskipun Telah Menikah dan Memiliki Anak(-anak)?

My Point of View: Ini hanyalah sharing atas pandangan pribadi mengenai suatu hal (dan mungkin itu sensitif).  Namanya pandangan, pendapat semata.  Bisa benar, bisa salah. Sekian.


KENAPA WANITA HARUS BEKERJA MESKIPUN TELAH MENIKAH DAN MEMILIKI ANAK(-ANAK)??

Bekerja disini maksudnya adalah menghasilkan, bisa berarti wanita karir yang setiap harinya terikat pada jam kerja, freelancer, work from home, usaha sendiri atau lainnya yang penting 'menghasilkan'.  With respect sama pilihan moms lain diluar sana yang memilih jadi ibu rumah tangga (stay at home moms), berikut pertimbangan aku alasan kenapa sebaiknya wanita itu harus bekerja:



1.  Mandiri Secara Finansial dan sebagai Financial Support.

Bekerja bukan karena suami tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup sekeluarga kalau aku tidak bekerja tapi lebih kearah kemandirian finansial dan financial support.  Aku bebas menggunakan uang yang aku hasilkan untuk membeli apa saja yang aku inginkan dan butuhkan, baik untuk keperluan pribadi maupun keperluan keluarga.  Jadi disini minimal kita bisa beli make up atau ke salon pakai uang sendiri, ga perlu minta..  Kita juga bisa leluasa beli baju dan mainan untuk anak, tanpa perlu minta ijin :)

Dari hasil bekerja, kita juga jadi bisa menabung untuk investasi masa depan anak dan keluarga.  Aku selalu menyisihkan penghasilan aku untuk ditabung, asuransi dan reksadana kemudian sisanya baru digunakan untuk keperluan sehari-hari dan kalau ada sisa, ditabung lagi.    Untungnya aku tidak gila belanja, bukan orang yang brand minded, bukan tipe orang yang suka party atau memiliki hobi yang menguras kantong.



2.  Tidak Mengalami Kejenuhan dan Emosi yang Labil.

Setiap orang ternyata berbeda ya.  Waktu aku cuti melahirkan 3 bulan (aku melahirkan spontan sehingga aku cuti pada saat bayi aku lahir), aku merasa bosan dan jenuh bahkan aku kangen banget sama kehidupan kantor.  Dirumah kayaknya aku malah merasa lelah banget (atau mungkin karena habis lahiran dan ngurus anak) dan kalau suami pulang, aku selalu minta ke Indomaret deket rumah.  Bukan perlu beli sesuatu, alasan saja biar bisa keluar..

Waktu 3 bulan berjalan sangat lama, dan aku agak takjub saja sama moms lain yang merasa waktu cuti sangat pendek dan sebal karena harus kembali meninggalkan anak untuk bekerja.  Aku pernah sih ngerasa aneh sama diri aku, tapi pas aku curhat ternyata ada teman aku juga yang merasakan hal yang sama.  Kami mengambil kesimpulan asal: Tidak ditakdirkan untuk menjadi stay at home mom! Tapi bukan berarti tidak sayang anak dan tidak mengutamakan keluarga loh yaa..



3.  Kita Tidak Tahu Apa Yang Terjadi di Masa Yang Akan Datang.

Kita selalu berdoa kalau segalanya akan selalu baik-baik saja dan semua berjalan sesuai dengan yang kita harapkan, namun ada baiknya kita melakukan suatu langkah antisipasi ketika suatu hal tidak sesuai dengan rencana:


  • PHK.  Meskipun telah bekerja dengan baik, ada beberapa hal yang memungkinkan kita untuk di-PHK terutama apabila kita bekerja sebagai pegawai swasta.  Perusahaan besar tidak menjamin karir kita aman, karena kita tidak tahu bisnis perusahaan kedepannya, contohnya saja perusahaan media cetak dan oil and gas yang semakin kesini semakin lesu sehingga PHK tidak dapat dihindarkan.  Nah apabila ini terjadi, maka suami atau istri yang bekerja dapat saling support finansial keluarga.

  • Sakit.  Apabila sakit tersebut parah dan tidak dapat bekerja, maka salah satu pasangan yang bekerja dapat jadi support.  Dan apabila kita sakit biasa (tidak sampai tidak bisa bekerja), perusahaan tempat kita bekerja biasanya akan memberikan kita asuransi kesehatan, bahkan ada yang melingkupi seluruh anggota keluarga.

  • Perceraian. Tidak ada yang pernah berpikir akan bercerai, semoga itu tidak akan terjadi.  Namun berdasarkan pengalaman beberapa moms, apabila dengan terpaksa perceraian harus dilakukan, maka apabila kita berdua bekerja, kita dapat hidup tidak bergantung dengan orang lain.  Kita bisa mandiri untuk mensupport diri sendiri (dan anak-anak kita).

  • Kematian.  Ini merupakan suatu kepastian namun kita tidak akan tahu waktunya.  Jika kita bersama-sama bekerja, apabila suatu hari salah satu dari kita meninggal, maka finansial keluarga tidak menjadi lumpuh dan yang masih hidup dapat hidup mandiri dan tidak ketergantungan dengan pihak lain.  Bisa membandingkan kan bedanya suatu keluarga yang kehilangan suami/ayah sebagai tulang punggung tunggal keluarga dengan yang istri/ibunya bekerja?




4.  Jaminan Masa Pensiun. 

Saat ini, perusahaan wajib untuk mengalokasikan dana pensiun bagi pekerjanya, baik melalui program pemerintah (BPJS) dan bahkan ada yang menambahkan dana pensiun sesuai dengan kebijakan perusahaannya.  Dengan suami-istri bekerja, maka dana pensiun sebenarnya sudah terjamin karena baik istri dan suami, keduanya akan mendapatkan dana pensiun ini.  Bahkan, banyak perusahaan asuransi yang membuka program dana pensiun sehingga dengan gaji/penghasilan yang terima kita dapat mengikuti program pensiun ini, sesuai dengan kemampuan dan keinginan kita. 

Dengan adanya dana pensiun ini, kita tidak perlu merepotkan anak-anak kita atau keluarga kita apabila kita pensiun suatu saat nanti.  Sebenarnya aku sendiri kurang setuju dengan anggapan anak adalah investasi, dimana pada masa tua nanti anak kitalah yang wajib menjaga dan memelihara kita.  Mungkin benar itu sebagai tanda bakti kepada orang tua, tapi apabila nyatanya suatu kita akan membebani mereka?  Nah, agar kita tidak menjadi beban, maka kita dapat mempersiapkan hal tersebut semenjak dini dengan bekerja dan menginvestasikan penghasilan kita, selagi kita bisa dan mampu. 



5.  Makin Mampu untuk Melakukan Manajemen Waktu dengan Baik. 

Dengan bekerja, kita jadi mampu membagi dan mengatur waktu dengan baik bahkan jadi harus bisa multitasking.  Apabila kita terikat dengan jam kerja tertentu, maka kita akan berusaha menjadikan waktu bersama anak kita berkualitas.  Banyak yang bilang seorang ibu bekerja akan kehilangan kedekatan dengan anaknya, namun menurut aku itu tidak benar.. Mungkin memang kita missed sama pertama kali si kecil berdiri, langkah pertama, atau hal memorable lainnya tapi buat aku yang terpenting adalah dia tetap mencintai kita, bagaimana keberadaan (eksistensi) kita didirinya, bagaimana kita membuat dia merasa aman, bagaimana dia paham dan yakin ibunya bekerja untuk memenuhi kebutuhannya dan masa depannya.

Oleh karena itu, biasanya ibu bekerja akan berusaha semampunya agar waktu dengan anaknya berkualitas.  Dia akan benar-benar berusaha mendidik, bermain, berkomunikasi, dan bersenang-senang dengan anaknya di waktu yang ia miliki. 



6.  Sosialisasi dan Mengimplementasikan Keilmuan.

Ada yang memberi stigma seorang ibu bekerja hanya ingin bersosialisasi dan menjaga eksistensi diri.  Bersosialisasi dan menjaga eksistensi tidak buruk kok, tapi percayalah itu bukan hanya satu-satunya alasan seorang ibu bekerja.  Selain memiliki teman dan mengenal berbagai macam orang dengan berbagai karakternya, banyak sekali manfaat positif yang didapat melalui bekerja.  Salah satunya dapat bertukar pikiran mengenai pola pengasuhan anak.  Terkadang aku sendiri mendapatkan jawaban mulai dari pertanyaan tentang pemberian asi eksklusif, anak sakit, dan persoalan tumbuh kembang anak lainnya dari teman kantor.

Apabila harus resign dan tidak bekerja, aku merasa 'sayang' jika ilmu yang telah aku pelajari tidak dapat diimplementasikan.  Dengan mengimplementasikan keilmuan, maka secara pribadi selain merasa lebih 'bermanfaat', dan pengetahuan aku lebih bertambah lagi.  Yah memang sih ada saja yang ngomong "Buat apa sekolah tinggi-tinggi tapi ilmunya untuk orang lain, lebih bermanfaat kan untuk mendidik anak sendiri", tapi kan yahh, honestly, justru itu aku lebih tidak bisa dan nyerah kalo disuruh ngerjain (apalagi ngajarin) soal matematika anak SD sekarang dibanding melakukan pekerjaan kantor :D  Mungkin kalo aku lebih baik menabung untuk biaya les anak nantinya hehehe.. Makanya, thumbs up buat moms yang memang memilih mendidik sendiri anak-anaknya :)



7.  Berkesempatan Lebih Besar Untuk Melakukan Pengalaman Baru Bersama Anak.

Dengan bekerja, maka otomatis secara finansial moms bekerja akan menjadi lebih baik.  Karenanya, moms bisa memberikan pengalaman-pengalaman baru buat si kecil, misalnya mencoba theme park (taman bermain) baru, wisata edukatif, restoran (wisata kuliner), traveling baik kedalam maupun luar negeri, dan lain sebagainya.  Informasi tentang tempat yang bagus untuk dikunjungi oleh anak-anak mungkin dapat diperoleh dari teman kantor atau relasi yang juga bisa menjadi dasar rujukan untuk pergi bersama si kecil. 







_________________________________________



DISCLAIMER:
Segala sesuatu yang tertulis dalam blog ini bukan dan tidak dapat dianggap sebagai suatu saran professional serta tidak dijamin keakuratannya melainkan agar dapat dipandang sebagai sharing pengalaman dan hasil research pribadi sebagai informasi, termasuk segala tautan yang ada didalamnya, sehingga karenanya tidak disarankan untuk digunakan sebagai dasar rujukan apapun.  Pembaca dapat meminta nasihat dan saran professional sehubungan dengan permasalahan yang dialami.  Penulis dan pemilik blog tidak bertanggungjawab atas kerugian yang timbul sehubungan dengan isi dari tulisan ini. Setiap konten berupa tulisan, gambar, foto, video, rekaman suara, atau gabungan diantaranya yang terdapat pada blog ini dilindungi oleh hak cipta sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.







Wednesday, January 3, 2018

PARENTING: Agar Baby Sitter/Suster/ART Betah Kerja Dirumah


TIPS AGAR BABY SITTER/SUSTER/ART BETAH KERJA DIRUMAH.


 
Banyak sekali pertanyaan (termasuk aku sendiri) dan keluhan serta drama per-suster/ART-an, dari mulai suster/ART yang tidak betah, berkinerja tidak sesuai dengan yang kita harapkan (untuk hal ini, dapat dibaca disini ya moms), dan lain sebagainya. Nah, berikut tips versi aku agar suster/ART bisa betah untuk bekerja ditempat kita:




1. Lihat Mereka Sebagai Partner Kerja.

Suster anak aku ternyata sangat telaten, sabar dan berpengalaman dibanding aku.  Dia sangat profesional bekerja dibidangnya dan memberikan masukan-masukan yang sangat berguna untuk aku. Sebagai ibu muda, pada saat itu aku tidak mempunyai pengalaman sama sekali mengenai perawatan bayi dan kehadiran suster itu sangat membantu.  Jadi meskipun kita sebagai pemberi kerja, namun kita harus mau mendengar saran-saran dan belajar dari pengalaman mereka bekerja dari tempat sebelumnya.  

Dengan demikian, suster/ART tersebut juga akan merasa dihargai oleh kita dan tentunya suster/ART akan melakukan tugasnya dengan hati yang gembira.



2. Seperti Juga Kita, Mereka Pun Punya Kelebihan dan Kekurangan.

Pasti dong yaa kita menyadari kalau diri kita memiliki kelebihan dan kekurangan, begitu juga dengan suster/ART kita.  Coba sekali-sekali jangan terus menerus melihat kekurangan mereka, tapi juga kelebihannya.  Apresiasi kelebihannya sambil memberikan dorongan untuk mengatasi kelemahan/ kekurangannya.  Jangan meletakan standar yang terlalu tinggi atau membandingkan skill/kemampuan suster/ART dengan yang sebelumnya.

Kalo aku sih pasti kasi tau suster kalo misalnya pekerjaan mereka ada yang kurang biasanya dengan mencontohkan cara melakukan pekerjaan tersebut dengan baik dan benar.  Biasanya apabila diberitahu dan dicontohkan secara baik-baik, mereka juga akan meniru dan mengerjakannya juga.  



3. Beri Suster/ART Privasi.  

 Privasi disini artinya kita paham dan mengerti kalau dunia suster/ART itu tidak melulu hanya bayi dan rumah kita saja.  Mereka juga punya keluarga, saudara, atau siapapun yang dianggap penting bagi hidup mereka.  Larangan penggunaan alat komunikasi terkadang justru membuat mereka tertekan, sebaiknya kita sedikit fleksibel terhadap peraturan penggunaan handphone.  Misalnya kita tegaskan kalau handphone hanya boleh digunakan pada jam-jam tertentu saja, sehingga memberikan kesempatan suster/ART untuk berkomunikasi dengan orang lain.  Aku sendiri tidak memiliki peraturan mengenai penggunaan handphone saat ini, hanya aku berpesan agar suster tidak menggunakan handphone secara bijak.  Kenapa seperti itu?  Karena saat ini, suster aku adalah seorang istri dan ibu dari 3 orang anak.  Kita saja dikantor sering mengecek anak kita, begitu juga suster kan? :)  Kalau dia single, mungkin peraturannya akan diubah :D



4. Hargai Waktu Istirahat Suster/ART.

Suster/ART juga manusia yang bisa lelah, sakit, dan bahkan butuh refreshing.  Moms bekerja?  Kalau iya, pasti juga selama jam kerja juga butuh istirahat kan?  Begitu juga Suster/ART.  Beri mereka waktu khusus untuk beristirahat, dan hormati waktu istirahat mereka tersebut dengan tidak menggangu/ memberi mereka pekerjaan, kecuali yang sifatnya urgent. 

Aku sendiri akan pegang bayi aku sendiri waktu malam hari, jadi meski bayi terbangun, aku tidak membangunkan suster.  Tapi terkadang apabila baby nangisnya dan terbangun lumayan lama, suster aku kebangun juga.  Mungkin merasa tidak enak sama kita soalnya paginya kita masih kerja, padahal kita sih santai :D  



5. Penuhi Kebutuhan Jasmani dan Rohani.

Kebutuhan jasmani disini misalnya pastikan kita memenuhi kebutuhan makanan suster/ART.  Karena aku bekerja, dari mulai sarapan, makan siang, dan makan malam aku diluar rumah.  Jadi aku selalu memastikan dikulkas tersedia stok bahan makanan dan terkadang kalau pulang kerja membelikan makanan jadi (ayam goreng, pizza, atau makanan lainnya yang dapat dipanaskan) untuk dimakan suster keesokan harinya.  Aku juga minta agar suster memberitahu apabila ada bahan makanan/ bumbu yang ingin dibeli untuk dimasak.  

Aku juga memberi kesempatan agar suster dapat beribadah dan menghindari hal-hal yang tidak diperbolehkan dalam agamanya.  Walau meskipun telah diberikan kesempatan, terkadang suster tidak melaksanakannya - mungkin karena tidak enak sama kita, atau mungkin karena memang belum diberi kesadaran untuk menjalankannya :D



6. Bersikap Adil.

Beberapa moms terkadang bersikap kurang adil atas diri suster/ARTnya.  Misalnya pada beberapa kasus anak moms memukul atau bersikap kasar terhadap suster/ART, ada beberapa ibu yang bukannya mengajari dan mendidik anak untuk bersikap baik terhadap semua orang serta memberitahu bahwa sikap tersebut salah, tapi malah cuek atas sikap anaknya dan bahkan menyalahkan suster/ART tersebut.  Atau, beberapa moms marah-marah karena anaknya tidak mau makan dan berat badannya turun drastis kemudian menyalahkan suster/ART-nya, padahal itu terjadi karena memang ada beberapa anak yang sedang dalam masa 'GTM - Gerakan Tutup Mulut (susah makan)' atau malahan moms sendiri yang tidak menyediakan makanan dengan gizi dan nutrisi seimbang.

Yah seperti halnya kita bekerja dikantor ya, kita disuruh mengerjakan suatu tugas dengan menggunakan komputer/laptop kantor yang lemot dan printer butut tapi si bos maunya hasil cepat dan rapi, susahkan? Malah mungkin kita berpikir untuk cepat-cepat resign dari kantor tersebut (disini saya sedikit curhat hehe..)  



7. Dengar Keluhan Mereka dan Diskusikan Setiap Hal yang Terjadi di Rumah.

Terkadang kita sok tau segalanya dan malas berdiskusi tentang apa saja kejadian yang terjadi dirumah, terutama hal-hal sepele.  Kita hanya mengatur apa yang harus dilakukan, tanpa mau mendengar apa pendapat dan keluhan suster/ART - atau karena suatu dan lain hal suster/ART takut (atau malas) mengemukakan apa yang menjadi keluhan/pendapat mereka tersebut.

Misalnya saja yang simpel, kalau mereka mengeluhkan semua pisau dapur tumpul/rusak atau spons cuci piring sudah pada rusak, segera tanggapi dengan membelikan pengasah pisau/ pisau baru dan spons pencuci piring.  Jangan malah marah-marah karena waktu memasak jadi lama atau piring kurang bersih dicuci, suster/ART akan tambah bete dan tidak betah bekerja dirumah moms.



8. Beri Deskripsi Kerja yang Jelas.

Dengan diberikan deskripsi kerja yang jelas dan telah disepakati bersama, maka tugas suster/ART akan terarah dan mereka dapat mengerti dan melakukan tanggungjawabnya dengan baik.  Berdasarkan pengalaman yang diceritakan oleh para suster/ART, sebenarnya mereka kurang menyukai dengan cara kerja tidak terarah dan banyak potensi konflik disana.  Contohnya dirumah ada beberapa ART dan suster, maka harus diperjelas pekerjaan mereka masing-masing dan lebih baik dibuatkan list pekerjaan mereka satu persatu.  Kalau tidak, akan banyak drama didalam rumah, seperti iri hati dan lempar melempar pekerjaan.



9. Treat.

Untuk treat sebenernya sendiri tidak ada waktu khusus kapan harus memberi.  Kadang-kadang kalau pulang kantor aku sering membelikan Chatime atau kue atau apapun kesukaan suster/ART.  Mereka sangat senang sekali diberikan sesuatu kesukaannya dan apabila mereka happy, tentu akan betah bekerja dirumah kita.  Sebenernya untuk hal ini bisa kita merefleksikan diri kita sendiri ditempat kerja atau dimanapun, apabila seseorang/boss memberikan kita hadiah kita akan menjadi semangat bekerja dan betah bekerja ditempat itu kan?  Service/ kualitas kerja kita pun akan otomatis meningkat.



10. Anggap Mereka Sebagai Bagian dari Keluarga.

Memang sebagian moms memutuskan untuk menjaga jarak dengan suster/ARTnya dan bebas-bebas saja sih hanya apabila kita menginginkan suster/ART agar betah bekerja dirumah maka sebaiknya moms menganggap suster/ART sebagai bagian dari keluarga sendiri, misalnya dengan tidak membedakan peralatan makan yang digunakan dan mengajak suster/ART makan bersama-sama dengan kita pada waktu makan diluar rumah.   

Banyak moms yang menganggap apabila suster/ART diperlakukan lebih maka mereka akan ngelunjak, itu sebenernya kurang tepat ya.  Apabila kelakuannya sudah melampaui batas, moms tinggal memperingatkannya saja kok, dan biasanya mereka akan mendengar dan intropeksi.  Mereka akan berat meninggalkan keluarga tempat mereka bekerja yang baik dan menggangap mereka sebagai bagian dari keluarga.



11. Tidak Terlalu Curiga.

Terkadang kita terlalu curiga apakah suster/ART telah melakukan pekerjaannya dengan baik dan melakukan segala cara untuk mengawasi suster/ART.  Untuk langkah antisipasi memang baik, namun yang aku bicarakan disini adalah kecurigaan yang berlebihan. 

Contohnya aku punya teman, sebut saja si X, seorang ibu yang meninggalkan anaknya dirumah ditemani oleh seorang suster.  Si X telah memasang cctv disetiap sudut rumahnya dan dikantor waktunya habis terkuras mengawasi cctv tersebut hampir tiap 2 jam (atau bahkan tiap jam!).  Si X juga selalu menelfon si suster dengan wejangan-wejangan yang menurut aku tidak perlu.  Hal ini sih selain menyebalkan bagi orang sekelilingnya serta menggangu kinerja teman aku tersebut, juga pastinya membuat si suster tidak betah kerja dirumah si X.  Sudah tidak terhitung berapa kali dia mengganti suster untuk anaknya.  Yah, kita saja malas kalau pada saat bekerja selalu diawasi dan dikomentari kan ya..  Pengawasan harus, curigaan jangan.  Kalo sikap moms seperti ini, mending sekalian jadi stay at home mom dong, kan lebih puas dalam mengurus anak sendiri :)



Semoga artikel ini bisa membantu yaa moms J








_______________________________________

DISCLAIMER:

Segala sesuatu yang tertulis dalam blog ini bukan dan tidak dapat dianggap sebagai suatu saran professional serta tidak dijamin keakuratannya melainkan agar dapat dipandang sebagai sharing pengalaman dan hasil research pribadi sebagai informasi, termasuk segala tautan yang ada didalamnya, sehingga karenanya tidak disarankan untuk digunakan sebagai dasar rujukan apapun.  Pembaca dapat meminta nasihat dan saran professional sehubungan dengan permasalahan yang dialami.  Penulis dan pemilik blog tidak bertanggungjawab atas kerugian yang timbul sehubungan dengan isi dari tulisan ini. Setiap konten berupa tulisan, gambar, foto, video, rekaman suara, atau gabungan diantaranya yang terdapat pada blog ini dilindungi oleh hak cipta sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.









Thursday, November 30, 2017

TIPS: Bagaimana Memilih Baby Sitter/Suster untuk Menjaga Bayi/Anak

BAGAIMANA MEMILIH BABY SITTER/ SUSTER UNTUK MENJAGA BAYI/ANAK

Mencari baby sitter adalah suatu hal yang tidak mudah dan perlu pengamatan serta ketelitian mengenai diri calon baby sitter, karena dia akan menjaga sesuatu yang paling berharga dihidup kita, yakni bayi kita.  Ada beberapa tips untuk menyeleksi dan memilih baby sitter yang cocok bagi kita, berikut:



Mengambil Baby Sitter dari Yayasan/Penyalur yang Terpercaya.

Cari baby sitter melalui penyalur tenaga kerja atau yayasan yang telah memiliki kredibilitas yang baik dan profesional, dan sebisa mungkin pilihlah yayasan yang direkomendasikan kerabat yang juga menggunakan jasanya.  Selain itu, perhatikan juga ketentuan dalam kontrak kerja terutama hal-hal sehubungan dengan cuti, garansi pergantian baby sitter, dan biaya lainnya.  Sering ada orang yang menyatakan jika mengambil baby sitter/ART dari yayasan penyalur tenaga kerja hanya akan menambah biaya-biaya, tapi justru banyak sekali manfaat yang akan didapat apabila kita mengambil baby sitter melalui yayasan, diantaranya:
  • Aman, karena yayasan yang berkredibilitas baik telah melakukan pemeriksaan terhadap diri setiap pekerja (termasuk pemeriksaan kelengkapan dokumen - bahkan memegang dokumen asli baby sitter) dan apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan (kehilangan, dsb), yayasan penyalur tenaga kerja akan ikut bertanggungjawab.  Kita juga sebaiknya meminta copy dokumen tersebut dan kontak/nomor telp keluarganya, jadi apabila ada suatu hal terhadap baby sitter, kita tahu siapa yang harus dihubungi.
  • Bergaransi, jadi jika kita tidak cocok dengan baby sitter yang diberikan, kita bisa minta ganti baby sitter.  Biasanya diberikan kesempatan mengganti sampai 3 kali.
  • Terlatih.  Di yayasan, baby sitter dibekali pendidikan dan pelatihan mengenai keterampilan merawat anak sesuai dengan spesialisasi baby sitter (newborn atau batita/balita).  



Memastikan Baby Sitter/Suster Sehat.

Biasanya yayasan yang kredibel telah memastikan kesehatan para baby sitter/seluruh pekerjanya namun apabila memiliki budget lebih, kita dapat melakukan general check up sendiri atas calon baby sitter yang kita inginkan.  Apabila opsi tersebut tidak mungkin, maka kita sebaiknya menanyakan riwayat kesehatannya secara mendetail.  Kita memang tidak mengetahui kapan akan jatuh sakit namun hal demikian dapat dicegah dan diminimalisir dengan seleksi kesehatan baby sitter.  Sangat penting untuk memilih baby sitter yang sehat dengan alasan:

  • Baby sitter dapat berkerja maksimal.  Bekerja untuk bayi/anak sangat mengutamakan fisik yang prima apalagi apabila anak kita sedang aktif-aktifnya.  Hal demikian juga penting bagi pertumbuhan dan keselamatan bayi/anak itu sendiri, misalnya si baby sitter harus memiliki kondisi fisik prima pada saat mengejar anak atau memandikan bayi kita.  Kebayang kan kalo baby sitter harus melakukan pekerjaan tersebut kalo tekanan darah rendah mereka kumat atau kolesterol mereka tinggi?
  • Kita tidak direpotkan dengan berbagai macam drama baby sitter sakit, seperti misalnya kita malah harus merawat baby sitter dan membawanya ke dokter atau rumah sakit.  Suatu hal yang wajar dan manusiawi apabila baby sitter sakit, namun apabila itu adalah suatu penyakit kronis atau menular, sebaiknya tidak diambil  karena akan malah mengganggu pekerjaannya dan membahayakan keluarga kita.  Ada beberapa penyakit yang dapat dimaklumi dan tidak, misalnya aku pernah dapet baby sitter yang punya sakit maag dan terkadang kurang darah, aku cuma pesan dengan dia kalo makan dijaga, jangan makan terlalu pedas atau asam, dan aku sediakan obat maag dan vitamin penambah darah.  So far, ok kok dan baby sitter aku tetap bisa bekerja dengan baik.
  • Bayi/anak kita aman dari risiko tertular penyakit dari baby sitter.  Ada beberapa penyakit berbahaya yang mudah tertular ke bayi/anak, pastikan baby sitter tidak mengidap penyakit tersebut.  Baby sitter merupakan orang yang terdekat dengan bayi/anak selain orangtuanya.  Jadi pastikan mereka tidak beresiko menularkan penyakit.  Pada dasarnya bukan hanya bayi/anak, kita juga harus menghindarkan seluruh keluarga kita dari risiko tertular penyakit.



Baby Sitter Berpendidikan dan Profesional dalam Merawat Bayi/Anak.

Kita sebaiknya bertanya pada diri kita, baby sitter yang mana yang kita pilih?  Apakah baby sitter yang profesional dan memiliki segudang ilmu dalam perawatan bayi/anak ataukah sekedar dapat merawat bayi/anak dengan segala komando dari kita? Biasanya di yayasan penyalur sudah diajarkan dan diberi pendidikan mengenai perawatan bayi/anak, namun pengalaman (lama baby sitter bekerja) sangat mempengaruhi kinerja, dan semakin berpengalaman, semakin mahal harga baby sitter tersebut.

Karena tidak ada pengalaman soal merawat bayi dan akan melepaskan bayi untuk dirawat oleh baby sitter sendiri karena harus kerja, aku memilih baby sitter yang punya pengalaman dan profesional dalam merawat bayi.  Artinya disini justru baby sitter aku yang harus aktif dan tau seluk beluk perawatan bayi.  Dia yang memberi advice aku tentang peralatan bayi, menu mpasi, dan langkah-langkah yang perlu kita lakukan/ persiapkan pada setiap perkembangan bayi.  Menurut aku justru baby sitter semacam ini yang aku perlukan, bukan yang pasif dan tunggu disuruh baru jalan.  Kalo moms memang sudah punya pengalaman sih ga masalah yaa, tapi kalo belom kayak aku sebaiknya cari yang bener-bener pengalaman dan professional.
 Sebaiknya moms tes lagi mengenai kemampuan baby sitter, misalnya dengan melihat caranya menggendong bayi, penjelasan bagaimana cara dia memandikan bayi atau memastikan baby sitter memiliki pengetahuan yang cukup apabila ditanyai oleh anak moms yang mungkin pada saat itu lagi gemar-gemarnya bertanya.



Memiliki Penampilan, Sopan Santun dan Tata Krama yang Baik.

Penilaian pertama kita pada baby sitter adalah penampilannya pada saat interiew sama kita. Perhatikan pakaiannya dan penampilan fisiknya secara keseluruhan, dari sana kita bisa menilai apakah dia bersih dan rapi.  Patut dipertanyakan mengenai kebersihan dan kerapian dia bekerja nantinya kalo pada saat interview saja dia tidak rapi dan bersih, bagaimana dia bekerja?  Kebersihan dan kerapian mutlak diperlukan oleh seorang baby sitter terutama jika dia akan merawat bayi.  
Sebaiknya juga mencari baby sitter tidak centil dan bergaya/berdandan berlebihan.  Aku pribadi sering meminta agar baby sitter tidak menggunakan perhiasan berlebihan saat bekerja, karena selain tidak pada tempatnya juga dapat menggangu kinerja (biasanya kalung yang digunakan sering ditarik-tarik bayi).  
Kalau bisa cari baby sitter yang supel dan dapat berbaur dengan setiap anggota keluarga dan lingkungan sekitar, namun bukan yang super gaul dan centil yang akan mengganggu pekerjaannya dan bahkan membahayakan bayi/anak yang akan diasuhnya ya.  Tata krama yang bak juga diperlukan, jadi sebaiknya kita beritahu calon baby sitter mengenai kebudayaan dan kebiasaan dirumah dan lingkungan keluarga, jadi baby sitter dapat menyesuaikan serta beradaptasi ketika bertemu keluarga/ keluarga besar nantinya.  



Sabar dan Telaten dalam Merawat Bayi/Anak.

Sebaiknya mencari baby sitter yang memiliki kesabaran dan ketelatenan yang tinggi.  Apalagi kalau menghadapi bayi/anak yang rewel.  Namanya setiap bayi itu berbeda, contohnya baby aku ketika dia masih 0 sampai kira-kira 3 bulanan tidak bisa tidur kalo tidak digendong (kecuali tidur malam) dan setiap ditaro dibox bayi pasti langsung bangun, jadi baby sitter aku terus gendong dia pas tidur.  Kebayang kan kalau baby sitternya ga sabar?
Hindari baby sitter yang memiliki sifat emosional dan labil.  Baby sitter baru (biasanya masih muda) cenderung tidak sabaran dan gampang putus asa/ kesal.  Jangan sampai karena bayi atau karena masalahnya terhadap suatu hal akhirnya dilampiaskan ke bayi/anak.    
Ketelatenan juga penting dalam setiap aspek perawatan bayi.  Misalnya, baby sitter paham cara memandikan dan benar menggunakan krim-krim untuk bayi (krim muka, moisturizer untuk lipatan kulit, diaper cream, lotion kulit, minyak telon, hair lotion).  Apalagi kalau kita pergi keluar rumah, jangan sampai persiapan keperluan bayi terlewat dan tertinggal karena tidaktelitian si baby sitter.


Mengerti Dunia Anak. 

Disini maksudnya baby sitter bisa bergaul dengan anak-anak dan dapat merespon segala tindakan dan pertanyaan mereka.  Baby sitter dapat membimbing dan mengasuh sehingga anak yang diasuh akan merasa betah bersamanya. Misalnya, si baby sitter menguasai banyak lagu anak-anak, pandai bercerita, bisa menggambar, melipat kertas, mengenal permainan anak dan hal kreatif lainnya.  Dengan mengerti dunia anak sesuai dengan perkembangan umur anaknya, baby sitter dapat membantu menunjang perkembangan anak, terutama apabila kita akan meninggalkan anak untuk diasuh sendiri oleh baby sitter hal tersebut amatlah penting.



Riwayat Keluarga Baik.

Dalam pemilihan baby sitter, ini perlu dipertimbangkan sebab justru hal inilah yang akan menjadi ukuran apakah baby sitter akan lama bekerja pada kita atau tidak dan menghindari drama pergantian baby sitter.
  • Apabila baby sitter single dan masih muda, akan ada kalanya dia akan diminta pulang untuk menikah atau untuk merawat orangtuanya/ keluarganya .  Alasan ini paling lazim, oleh karenanya sebaiknya ditanyakan apakah dia memiliki rencana menikah dalam waktu dekat atau bagaimana kondisi orangtuanya.
  • Apabila baby sitter merupakan seorang ibu dengan anak, maka sebaiknya ditanyakan kondisi seluruh keuarganya.  Apakah dia telah diijinkan oleh suaminya untuk bekerja, kondisi anaknya, kalau anaknya sakit bagaimana, dan sebagainya.  Jangan sampai ternyata baby sitter sebentar-sebentar harus ijin/cuti pulang untuk mengurus keluarganya.  Tanya komitmennya untuk bekerja moms.
  • Apabila baby sitter janda, dengan atau tanpa anak.  Selain moms harus bertanya mengenai kondisi keluarganya, moms juga perlu mencari tahu kehidupan pribadinya.  Biasanya (tidak semuanya) baby sitter dengan status ini agak centil dan tidak jarang sedang memiliki atau sedang mencari pasangan.  Ditekankan lagi peraturan dirumah moms terutama mengenai penggunaan handphone.  


Cari yang Dapat Dipercaya.  Lakukan Test dan Melakukan Langkah Preventif.
Mendapatkan baby sitter yang dapat dipercaya itu gampang-gampang susah.  Lakukan test saja moms. Kalau aku sih dengan mencari tahu apakah makanan/minuman yang seharusnya diberikan kepada bayi itu benar-benar habis atau dibuang dengan mengecek tempat sampah atau memperhatikan diam-diam.  Aku juga sering menaruh uang pada tempat tertentu dan kemudian apabila posisi/jumlah uang tidak berubah meski sekecil apapun, berarti dia bisa dipercaya.  Apabila si baby sitter gagal dalam test ini, segera kembalikan dia ke yayasan atau suruh mereka pulang, karena akan sulit bekerja dengan orang yang tidak kita percaya apalagi mereka memegang bayi/anak kita.  
Moms juga bisa memasang CCTV untuk memantau aktifitas baby sitter dan bayi/anak selama moms tidak ada.  Meskipun meninggalkan baby sendirian dengan baby sitter karena harus bekerja, aku tidak memasang CCTV.  Aku hanya memantau kinerja baby sitter dengan perkembangan baby aku sendiri, apabila aku rasa dia tetap ceria dan berat badan serta perkembangannya baik, menurut aku sih baby sitter telah bekerja dengan baik.  
Aku telah melakukan seleksi awal untuk baby sitter permanen dan biasanya aku dapat yang dipercaya moms, namun waktu infal aku pakai baby sitter dan entah kenapa aku tidak percaya sama dia.  Dan benar saja, dia diam-diam mau membuang makanan dan begitu ditanya dia bilangnya baby sudah kenyang.  Lah, itu porsi dia!  Kita itu bujukin baby makan sampe capek sampe nyanyi-nyanyi dan joget-joget, ini enak banget begitu si baby ga mau langsung dibuang.  Akhirnya aku memutuskan untuk tidak meninggalkan baby sendirian dengan baby sitter.  Pokoknya sih sebagai ibu, kita ada feeling yang susah dijelasin, hanya kita tiba-tiba tau saja yang mana bisa dipercaya dan yang mana yang tidak.  Apabila memungkinkan, moms dapat meminta contact majikan calon baby sitter sebelumnya untuk memastikan kejujuran dan kinerjanya selama bekerja disana. 


Semoga tipsnya berguna yaa moms.







DISCLAIMER:

Segala sesuatu yang tertulis dalam blog ini bukan dan tidak dapat dianggap sebagai suatu saran professional serta tidak dijamin keakuratannya melainkan agar dapat dipandang sebagai sharing pengalaman dan hasil research pribadi sebagai informasi, termasuk segala tautan yang ada didalamnya, sehingga karenanya tidak disarankan untuk digunakan sebagai dasar rujukan apapun.  Pembaca dapat meminta nasihat dan saran professional sehubungan dengan permasalahan yang dialami.  Penulis dan pemilik blog tidak bertanggungjawab atas kerugian yang timbul sehubungan dengan isi dari tulisan ini. Setiap konten berupa tulisan, gambar, foto, video, rekaman suara, atau gabungan diantaranya yang terdapat pada blog ini dilindungi oleh hak cipta sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.