Friday, November 17, 2017

PARENTING: Popok Kain atau Popok Sekali Pakai (Diaper)?



POPOK KAIN ATAU POPOK SEKALI PAKAI (DIAPER)?

Topik ini mungkin bisa jadi suatu perdebatan sengit diantara para moms.  Tapi secara pribadi sebagai simple mom, aku lebih memilih popok sekali pakai.  Cia (1y5m) dari newborn sampai dengan saat ini masih menggunakan popok sekali pakai.  Saat ini menggunakan merek MamyPoko, sebelumnya sejak newborn sampai dengan 8 bulan menggunakan merek Pampers.  Bisa dikatakan aku pro popok sekali pakai, meskipun demikian aku tidak anti dan tetap menghormati pilihan moms lain yang menggunakan popok kain.




Apabila Bayi Pipis/Pup, Ternyata Bukan Hanya Popok dan Bedong saja yang Kotor.

Awalnya aku menggunakan popok kain dan itu hanya bertahan dalam waktu hanya sehari setelah pulang dari rumah sakit. Pada saat persiapan menyambut bayi, aku beli 2 lusin bedong, 2 lusin popok kain, beberapa baju lengan panjang maupun pendek.  Aku pikir cukup yaa karena ketika bayi pipis atau pup kita akan cuma ganti popok dan bedong saja.  Ternyata kenyataannya tidak begitu.  Baju bayi dan alas tempat tidur/alas perlak yang terkena ompolan/pup bayi ternyata juga perlu diganti.  Walhasil karena salah perhitungan, baju bayi kurang karena terkena ompol/pup.  Baru sehari mencoba menggunakan popok kain, aku langsung menyerah moms dan ganti ke popok sekali pakai.




Penggunaan Popok Kain Mudah Bocor.

Jika menggunakan popok kain dan kita menggendong bayi, sangat dimungkinkan kalo kita terkena ompolan bayi, bukan hanya kita, tapi tempat tidur, stroller, sofa maupun car seat juga dapat terkena nasib yang sama dan apabila tidak segera dibersihkan/kurang bersih akan menyebabkan bau yang tidak enak.  Sedangkan popok sekali pakai biasanya dilengkapi dengan gel peresap yang bisa menyerap dan menahan cairan agar tidak mudah bocor.  Disini letak nilai plus popok sekali pakai, karena tidak mudah bocor maka ompolan bayi tidak sampai terkena benda lain dan rumahpun tetap wangi :)  




Popok Kain Menyebabkan Kekhawatiran Apabila Hujan Turun.

Musim hujan menyebabkan kekhawatiran yang teramat sangat apabila cucian mulai menumpuk, terutama jika persediaan pakaian bayi kita pas-pasan.  Meskipun ada mesin cuci yang memiliki pengering, namun biasanya mesin cuci tersebut tidak mengeringkan 100%, harus dibantu dengan sinar matahari agar benar-benar kering.  Jadi, ada kemungkinan kehabisan popok, bedong atau pakaian bayi - dan popok sekali pakai jadi jawabannya :)



Popok Kain Menghabiskan Waktu dan Tenaga.


Kalo moms merasa bisa dan punya asisten untuk melakukan semua, itu bagus.  Namun apabila moms merasa terlalu sibuk untuk melakukan itu semua, popok sekali pakai merupakan pilihan yang tepat.  Daripada sibuk berkutat dengan cucian, aku lebih memilih menghabiskan waktu main bersama bayi dan istirahat, tapi semuanya dikembalikan pada kondisi masing-masing yaa moms.  Setelah melahirkan aku merasakan kelelahan yang luar biasa, jadi aku tidak mau menambah beban aku dengan cucian.  Takutnya malah tambah kecapean dan sakit.




Bahan Popok Sekali Pakai Berkualitas.

Bahan popok aman bagi bayi dan teruji.  Lapisan atasnya lembut dan memiliki pori untuk keluar masuk udara hingga kulit bayi selalu merasa nyaman.  Gel peresap didalamnya juga mengikat cairan secara baik sehingga membuat kulit bayi tetap kering dan bersih.  Popok sekali pakai yang aku pakai dilengkapi dengan indikator, jadi kapan bayi pipis dan seberapa banyak/penuh popoknya dapat dilihat dari indikator tersebut jadi lebih praktis tidak perlu buka-buka popoknya lagi.  Popok sekali pakai berkualitas baik bahkan berbahan lebih lembut dan berpori dibandingkan dengan popok kain.




Popok Sekali Pakai Praktis.

Penggunaan popok sekali pakai sangat mudah, tinggal direkatkan saja.  Apalagi sekarang terdapat popok sekali pakai berbentuk celana, semakin memudahkan kita untuk menggunakannya disesuaikan dengan umur bayi.  Apabila bayi pup, popok sudah penuh atau sudah waktunya untuk mengganti, popok sekali pakai bekas hanya perlu dilipat dan kemudian dibuang ketempat sampah.  Kepraktisan popok sekali pakai ini terutama pada saat berpergian, jadi kita tidak perlu membawa pakaian yang banyak dan popok bekas pun tidak perlu kita bawa kembali kerumah untuk dicuci.




Popok Kain Lebih Hemat dan ramah lingkungan dibandingkan Popok Sekali Pakai?

Tergantung.  Memang popok kain bisa dicuci dan dipakai berulang-ulang, bahkan dapat disimpan untuk digunakan untuk anak selanjutnya atau diwariskan kepada orang lain, tapi bagaimana dengan biaya detergent bayi, pewangi, antiseptic, listrik, ataupun biaya air?  Menurut aku sih tidak bisa dihitung secara matematis yaa..  Begitu juga isu yang mengatakan popok sekali pakai tidak ramah lingkungan.  Memang benar popok sekali pakai menghasilkan sampah, namun popok sekali pakai juga menggunakan air dan detergent bukan?  Agak sulit untuk membahas dan mendapatkan jawaban atas pertanyaan ini karena semuanya sebenernya tergantung penggunaannya dan apa yang digunakan.


Popok Sekali Pakai Menyebabkan Ruam.

Pernyataan yang tepat adalah baik popok sekali pakai maupun popok kain dapat menyebabkan ruam.  Ruam dapat terjadi karena infeksi bakteri atau jamur akibat popok yang basah/kotor tapi tetap dipakai, maupun karena alergi.  Hal itu dapat dicegah dengan:
  • Sering memeriksa popok, apabila basah/kotor, harus segera diganti;
  • Membersihkan kulit bayi dengan air bersih atau tisu khusus;
  • Memastikan kulit bayi bersih dan kering sebelum menggunakan popok yang baru;
  • Mengoleskan krim popok (diaper cream) sebelum menggunakan popok baru.


Tidur Malam Tidak Terganggu Menggunakan Popok Sekali Pakai.

Dengan menggunakan popok sekali pakai, tidur bayi lebih pulas dan tenang, dibandingkan bila menggunakan popok kain.  Kalau menggunakan popok kain, setiap kali pipis bayi pasti terbangun dan kita harus segera membersihkannya, sedangkan kalau menggunakan popok sekali pakai, daya serap yang tinggi membuat permukaan popok kering dan bersih sehingga bayi tetap nyaman untuk tidur.  Tidur merupakan suatu hal yang sangat penting bagi tumbuh kembang bayi, jadi sebisa mungkin bayi dibuat nyaman saat tidur.  




Yang Harus Diperhatikan dalam Menggunakan Popok Sekali Pakai.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sehubungan dengan penggunaan popok sekali pakai, diantaranya:
  • Apabila popok sekali pakai meninggalkan bekas/tanda karet, maka sebaiknya perekat dilonggarkan atau mengganti popok dengan ukuran yang lebih besar;
  • Apabila terjadi ruam, segera atasid an temukan penyebabnya.  Penggunaan krim popok (diaper cream) sangat membantu untuk pencegahan ruam.  Apabila ruam telah terjadi, bisa gunakan krim anti ruam yang dijual di toko obat (Century, Guardian, Watson, dan semacemnya) atau konsultasikan ke dokter anak.
  • Ada beberapa bayi yang kulitnya sensitif dengan merek popok sekali pakai tertentu, apabila terjadi gatal/ruam mungkin moms bisa mengganti merek popoknya.
  • Sampah bekas popok sekali pakai harus segera dibuang/ dikosongkan secara teratur untuk mencegah bau dan penyebaran bakteri.


Semoga membantu yaa moms :)



______________________________

DISCLAIMER:

Segala sesuatu yang tertulis dalam blog ini bukan dan tidak dapat dianggap sebagai suatu saran professional serta tidak dijamin keakuratannya melainkan agar dapat dipandang sebagai sharing pengalaman dan hasil research pribadi sebagai informasi, termasuk segala tautan yang ada didalamnya, sehingga karenanya tidak disarankan untuk digunakan sebagai dasar rujukan apapun.  Pembaca dapat meminta nasihat dan saran professional sehubungan dengan permasalahan yang dialami.  Penulis dan pemilik blog tidak bertanggungjawab atas kerugian yang timbul sehubungan dengan isi dari tulisan ini. Setiap konten berupa tulisan, gambar, foto, video, rekaman suara, atau gabungan diantaranya yang terdapat pada blog ini dilindungi oleh hak cipta sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.




















Tuesday, November 14, 2017

PARENTING: Makanan Bayi Instan, Apakah Selalu Buruk?

MAKANAN BAYI INSTAN, APAKAH SELALU BURUK?

Sebagai ibu yang juga bekerja, makanan instan sangat membantu.  Makanan instan disini maksudnya makanan kemasan komersil pabrikan yang sudah dapat sertifikasi BPOM yah..


Kenapa?
Karena lebih simpel dan praktis.  Itu yang utama.  Aku biasanya memberi baby aku makanan instan bubuk kardus (mereknya Heinz, dengan segala varian rasa) tersebut pada pagi hari saja, sedangkan untuk siang dan sorenya, aku kasi makan bubur homemade.  Itu sudah aku lakukan ketika dia mulai mpasi sampai dengan saat ini (1y5m), dan sejauh ini tidak ada masalah.  Memang banyak yaa isu yang beredar kalo misalnya moms yang memberi makanan instan kepada anaknya merupakan moms yang egois dan sebagainya, tapi yah kalo aku sih kembali saja kepada kebutuhan masing-masing.  Selain aku percaya dengan kepenuhan gizi yang ada dibubur instan, aku lebih memilih menghabiskan waktu bermain sama baby aku daripada menghabiskan waktu untuk buat makanan sebelum pergi bekerja, meskipun memang banyak pilihan makanan homemade yang tidak terlalu merepotkan untuk dibuat.


Gizi pada makanan homemade jauh lebih banyak dan lebih baik daripada makanan instan?
Belum tentu.  Setelah dikonsultasikan ke dokter anak, sebenarnya belum tentu makanan homemade lebih banyak gizinya dibanding makanan instan: 
  • Makanan bayi instan itu mengandung bahan makanan alami yang dibuat dengan teknik freeze dry (pengeringan seluruh bahan makanan sampai kandungan air minimal bahkan 0, supaya bakteri tidak dapat tumbuh dan berkembang) dan penepungan (milling) dimana seluruh bahan dihaluskan menjadi tepung atau berbentuk bubuk.  Jadi seluruh buah, sayur, daging yang ada pada makanan instan tersebut memang benar-benar asli.
  • Memang karena proses freeze dry dan milling ada beberapa nutrisi hilang, namun makanan bayi instan juga melewati proses fortifikasi (penambahan zat gizi tertentu), biasanya yang ditambahkan adalah zat besi, vitamin, omega3, dan mineral sehingga tidak enar yang mengatakan bahwa makanan bayi instan tidak memiliki nilai nutrisi/gizi. 
  • Makanan bayi instan tidak mengandung monosodium glutamate (MSG).  Tidak ada makanan bayi instan yang telah diberi ijin beredar oleh BPOM mengandung MSG, jadi tidak benar isu yang mengatakan jika makanan bayi instan banyak mengandung MSG.  Adapun kandungan gula dan garam penggunaannya sangat dibatasi dan diawasi serta harus sesuai dengan aturan.  Hal ini dapat dibaca dan tercantum dalam label kemasan.
  • Pengolahan makanan bayi instan diatur, dan diawasi oleh lembaga kesehatan/ institusi negara sehingga kehigienisan dan mutu bahan-bahan yang digunakan tetap terjaga. 

Sedangkan apabila dibandingkan dengan makanan homemade, sebetulnya perlu dikaji lebih dalam untuk mengetahui apakah benar gizi pada makanan homemade lebih besar daripada makanan instan, berikut:
  • Bahan makanan homemade yang kita masak itu apa? Berdasarkan cerita dari pengalaman dokter, terkadang ibu kurang tepat dalam pemilihan makanan untuk bayinya.  Misalnya saja untuk bayi pada usia tertentu harus banyak mengkonsumsi zat besi, makanan yang diberikan kepada bayi justru tidak memberikan makanan yang tinggi zat besi.
  • Bagaimana cara pengolahan makanan, apakah sudah tepat sehingga nustrisi makanan tetap terjaga?  Terkadang ada beberapa ibu yang merebus sayuran sampai lumat/lembek dengan harapan bayinya mudah menelan, padahal beberapa jenis sayuran akan kehilangan nutrisinya apabila direbus dalam jangka waktu yang lama
  • Apakah penggunaan perasa (gula dan garam) sudah sesuai dengan ketentuan?  Terkadang dalam memasak, beberapa ibu mencampurkan garam/gula sesuai dengan selera mereka dan tidak dilakukan penakaran.  Mereka akan mencicipi masakan bayi mereka dengan lidah mereka, padahal rasa asin orang dewasa dan bayi berbeda.  Jangankan terhadap bayi, antar orang dewasa saja terkadang berbeda.
  • Apakah peralatan dan bahan makanan yang digunakan higienis dan bermutu baik?  Hal ini sangat berdampak sekali dengan kualitas makanan bayi.  Jangan sampai kita malas mensterilkan/membersihkan peralatan pengolahan makanan (terutama misalnya talenan kayu) atau kita ternyata memilih bahan makanan yang mengandung banyak pestisida/ pengawet sehingga dapat berpengaruh pada kualitas makanan bayi itu sendiri. 

Yang perlu diperhatikan dalam memberikan makanan bayi instan kemasan?
Moms perlu memperhatikan beberapa hal apabila memutuskan memberikan makanan bayi instan kemasan agar penggunaannya aman dan nilai nutrisi pada makanan bayi instan tersebut tidak berkurang, diantaranya:
  • Baca petunjuk penyajian.  Misalnya apakah makanan bayi instan tersebut hanya dicampurkan air panas ataukah harus dimasak terlebih dahulu.
  • Tempat penyimpanan yang tepat. Setiap jenis makanan bayi instan memiliki kemasan yang berbeda, dan moms harus memperhatikan petunjuk tempat penyimpanan agar kondisi dan kualitas makanan bayi instan tersebut tidak berubah.
  • Baca label kemasan dan kenali apakah dalam makanan bayi instan yang hendak diberikan kepada bayi terdapat bahan makanan yang memicu alergi.  Apabila bayi moms memiliki alergi bahan makanan tertentu, moms perlu lebih teliti dan mendetail dalam membaca label kemasan.  Jangan sampai moms memberi makanan instan yang mengandung bahan yang memicu alergi. Perhatikan tanggal kadaluwarsa makanan bayi instan.  Apabila makanan instan kemasan sudah dibuka, sebaiknya segera dihabiskan dan baca label petunjuk sampai kapan produk makanan bayi instan tersebut dapat bertahan berikut tempat penyimpanan yang tepat.
  • Makanan bayi instan dapat dicampur bahan makanan segar untuk melengkapi gizinya.  Jadi apabila suatu makanan bayi instan tidak mengandung bahan makanan tertentu dan moms menginginkan makanan segar tertentu dimakan oleh bayi, bisa dicampurkan sehingga gizi/nutrisi lebih lengkap dan seimbang.  

Meskipun dari segi nutrisi dan kehigienisan terjamin, moms juga sebaiknya mempertimbangkan dampak dari pemberian makanan bayi instan yang terus menerus, diantaranya adalah bayi tidak mengenal rasa asli/alami dari bahan makanan.  Hal ini disebabkan karena makanan bayi instan biasanya semua bahannya sudah tercampur menjadi satu.


________________________________



DISCLAIMER:

Segala sesuatu yang tertulis dalam blog ini bukan dan tidak dapat dianggap sebagai suatu saran professional serta tidak dijamin keakuratannya melainkan agar dapat dipandang sebagai sharing pengalaman dan hasil research pribadi sebagai informasi, termasuk segala tautan yang ada didalamnya, sehingga karenanya tidak disarankan untuk digunakan sebagai dasar rujukan apapun.  Pembaca dapat meminta nasihat dan saran professional sehubungan dengan permasalahan yang dialami.  Penulis dan pemilik blog tidak bertanggungjawab atas kerugian yang timbul sehubungan dengan isi dari tulisan ini. Setiap konten berupa tulisan, gambar, foto, video, rekaman suara, atau gabungan diantaranya yang terdapat pada blog ini dilindungi oleh hak cipta sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.